Pesan Paskah untuk Keluarga

Selamat Paskah untuk Papa Mama, adik-adik, adik ipar dan sepupu saya. Hari ini kita merayakan Paskah, hari ketika kita memperingati kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus.

Paskah ini sangat unik karena tidak seperti Paskah yang biasanya,  kita merayakan hari ini terkurung di rumah kita sendiri dan kita "menghadiri gereja" di rumah kita. Semua ini terlihat sangat tidak seperti orang beragama yg lagi merayakan Paskah. Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Allah membiarkan pandemi yang mengerikan ini? Pernahkah Anda bertanya-tanya, jika kalau Allah inginkan semua umat-Nya pergi ke gereja setiap minggu, lalu mengapa Ia membiarkan semua gereja di seluruh dunia TUTUP?

Apakah Covid19 ini berasal dari Tuhan atau tidak, kita tidak tahu. (Ya, kita tahu bahwa itu berasal dari orang-orang yang tidak mematuhi langkah-langkah penanganan yang tepat ketika menjual hewan hidup.) Tetapi yang kita semua tahu adalah bahwa Covid19 sedang terjadi dan telah mempengaruhi kehidupan yang sangat buruk di seluruh dunia. Ada begitu banyak pelajaran yang telah saya pelajari dari covid19 ini. Saya ingin berbagi dengan kalian dengan rendah hati satu poin saja, agar tidak membuat kalian bosan.

Salah satu pelajaran penting yang saya pelajari di musim ini adalah bahwa ada hubungannya dengan gereja-gereja kita yang ditutup. Umat ​​Katolik, Protestan, Anglikan, Metodis, Katolik Ortodoks, dll., menutup gedung-gedung mereka, tidak mengizinkan seorang penyembah pun masuk ke gedung gereja. Banyak orang Kristen (dalam denominasi apa pun) tiba-tiba merasa tersesat dan bingung. "Di mana kita akan berdoa?" "Bagaimana kita akan menerima Ekaristi Kudus kita?" "Bagaimana kita akan bermeditasi di Kapel?" "Bagaimana kita akan memiliki Perjamuan Kudus?" "Bagaimana kita akan melakukan pengakuan dosa kita?" "Bagaimana kita akan menyanyikan ibadah kita tanpa kelompok Paduan Suara?" dan banyak lagi pertanyaan.

Saya ingin menunjukkan ayat Alkitab yang saya rasa sangat relevan dengan apa yang saya pelajari ini.

Yohanes 4:20-21 berkata,
'“Nenek moyang kami menyembah Allah di bukit ini, tetapi bangsa Tuan berkata bahwa hanya di Yerusalem saja tempatnya orang menyembah Allah.” “Percayalah,” kata Yesus kepadanya, “satu waktu orang akan menyembah Bapa, bukan lagi di bukit ini, dan bukan juga di Yerusalem. '

Pada saat itu, orang-orang Yahudi akan pergi ke satu kuil di gunung untuk berdoa dan "bertemu dengan Tuhan". Kemudian, pada tahun 70AD, kekaisaran Romawi berperang melawan orang-orang Yahudi dan menghancurkan kuil utama di Yerusalem, seperti yang diprediksi Yesus. Tiba-tiba, orang tidak lagi memiliki kuil untuk dikunjungi.

Ayat Alkitab ini mengingatkan saya dengan hal yang terjadi pada kita di saat ini. Apa yang saya pelajari dari kejadian Covid19 ini adalah bahwa bangunan gereja bukan satu-satunya tempat ibadah, KITA juga adalah tempat ibadah. Kita dapat memanggil Yesus dari mana saja. Kita bisa menyembah Tuhan dari mana saja. Kita dapat mendengarkan khotbah dari mana saja. Kita bisa menyayi lagu pujian dari mana saja. Kita mengakui dosa-dosa kita secara langsung kepada Allah dari kamar kita. Kita berbagi rasa terima kasih kita dan berbagi testimoni dengan keluarga kita, walaupun mereka bukan pengikut Yesus! tidak lagi dengan teman-teman gereja kita saja. Kita mengamati perjamuan terakhir dari rumah kita sendiri, bersama anggota keluarga kita di rumah. Tindakan kita sehari-hari menjadi tindakan ibadah kepada Tuhan. Kita bukan lagi orang "Sunday Christian". Dengan gereja-gereja yang ditutup sementara, kita harus segera menyadari dan mengetahui bahwa tubuh kita adalah Kuil Suci Allah (1 Kor 6:19). Saudara-saudara, ini adalah kesempatan dimana kita harus mengintropeksi hati dan kehidupan kita dan memeriksa postur spiritual kita. Jangan menjadi orang Kristen yang hanya pergi ke gereja. Mengapa? karena jika demikian, itu artinya pada saat ini, kita tidak memiliki hak untuk memanggil Yesus, "Tuhan". Saya minta maaf jika kata-kata saya kasar, tetapi ini adalah sesuatu yang dekat dengan hati saya. Saya tidak mengatakan bahwa saya adalah orang Kristen yang sempurna. Saya memiliki banyak kekurangan, banyak kelemahan, dan saya masih menyimpan pikiran-pikiran buruk. Tetapi saya selalu bersedia untuk mengalih pandangan saya kepada Yesus dan siap digunakan sebagai bejana untuk melakukan pekerjaan Tuhan yang telah Dia rencanakan untuk saya, dari saat sebelum saya dikandung.

Jadi saya ingin bertanya kepada anda, apa arti Paskah bagi anda secara pribadi?

Selamat Paskah dan Tuhan memberkati!

Comments

Popular posts from this blog

I don't want to be excited for Heaven

The Signs of the End Time as in the Days of Noah

A Leader's Reflection